
Buku dengan cover simple yang tidak Jelas
Buku dengan cover warna putih yang mendominasi dan judul bertulis 'Jakarta' serta gambar buah durian berada di tengahnya membuatku tertarik untuk memhampirinya di lapak baca perpustakaan jalanan Akar Rumput yang sedang melapak kawasan pelataran Tugu Jogja.
Jakarta! adalah novel debut karya Christophe Dorigné-Thomson, penulis berdarah Prancis-Inggris, yang pertama kali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2012. Meski berjudul Jakarta!, novel ini tidak sepenuhnya berkisah tentang ibu kota Indonesia. Sebagian besar cerita justru mengikuti perjalanan Edwin, protagonisnya, ke berbagai belahan dunia sebelum akhirnya menemukan makna hidup di Jakarta. Dari awal, buku ini terasa seperti perjalanan fisik sekaligus batin seorang pemuda Eropa yang terjebak dalam dilema moral dan pencarian jati diri.
Tokoh utama, Edwin, adalah lulusan sekolah bisnis ternama di Prancis. Ia mewakili generasi muda Eropa yang cerdas namun kecewa dengan realitas dunia kerja yang kaku dan minim makna. Di tengah kegalauannya, Edwin menerima tawaran pekerjaan tak lazim: menjadi pembunuh bayaran untuk kepentingan korporasi global. Pilihan ini membawanya ke berbagai penjuru dunia Brasil, Kuba, Afrika, China, dan India tempat di mana ia terlibat dalam operasi-operasi gelap yang sarat intrik bisnis dan politik. Edwin menyaksikan langsung bagaimana keserakahan kapitalisme merampas hak-hak masyarakat lokal dan merusak lingkungan.
Meski pekerjaannya kejam, Edwin bukan karakter yang sepenuhnya dingin. Ia terus dihantui pertanyaan: “Untuk apa semua ini?” Transformasi batinnya terasa bertahap dari sekadar eksekutor tanpa emosi menjadi seseorang yang mulai mempertanyakan moralitas tindakannya. Titik balik itu semakin kuat saat ia tiba di Jakarta. Kota yang pada awalnya ia anggap sekadar "tugas terakhir" justru memberinya pengalaman paling berkesan. Di balik kemacetan, panas menyengat, dan hiruk-pikuknya, Edwin menemukan sesuatu yang tak ia jumpai di tempat lain: kehangatan manusia. Ia terkesan dengan solidaritas masyarakat Jakarta bagaimana orang-orang saling membantu meski hidup dalam keterbatasan. Pengalaman ini menyadarkannya bahwa hidup bukan hanya soal uang atau kekuasaan, melainkan soal hubungan antarmanusia.
Dari segi tema, Jakarta! mengangkat kritik sosial yang relevan: kesenjangan global, eksploitasi negara berkembang, dan bagaimana sistem ekonomi dunia sering menindas mereka yang tak berdaya. Dorigné-Thomson menyelipkan kritiknya tanpa ceramah, melainkan melalui pengalaman personal Edwin. Perspektif orang Eropa yang "terdampar" di Jakarta juga memberikan kontras menarik antara dunia Barat yang individualis dengan budaya Indonesia yang lebih kolektif.
Gaya penulisan Dorigné-Thomson cenderung deskriptif dan kadang terasa seperti catatan perjalanan. Ia piawai melukiskan suasana kota—baik itu riuhnya pasar di Mumbai, hiruk-pikuk Havana, hingga kekacauan lalu lintas Jakarta. Namun, minimnya dialog membuat beberapa bagian terasa lambat. Bagi pembaca yang terbiasa dengan novel penuh percakapan, ini mungkin jadi tantangan. Selain itu, meski judulnya menonjolkan Jakarta, bagian yang berfokus pada kota ini baru muncul menjelang akhir, yang bisa membuat sebagian pembaca bertanya-tanya: mengapa Jakarta yang dipilih sebagai judul? Mungkin karena di sanalah Edwin “bertemu dirinya sendiri” dan menemukan makna hidup yang ia cari.
Secara keseluruhan, Jakarta! bukan sekadar novel perjalanan atau thriller bisnis. Buku ini adalah kisah tentang pencarian makna di dunia yang serba absurd. Meskipun ada kekurangan di ritme cerita, pesan optimis yang dihadirkan bahwa harapan bisa ditemukan di tempat yang tak terduga menjadikan novel ini layak dibaca. Bagi mereka yang tertarik pada isu sosial global dan ingin melihat Jakarta dari mata seorang asing, buku ini bisa menjadi pilihan yang menarik.