blur bg
Story cover
childni_
Childani ArDitulis pada 17 Februari 2025

Review: Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi

⚠️ Peringatan: Bacalah buku ini ketika energimu sudah siap!

Perlu saya tambahkan peringatan di depan mengingat saya sendiri harus menyelesaikan buku ini selama tiga tahun sejak pertama kali membuka plastiknya. Ini buku yang sangat menguras energi!

seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat

Saya harap kamu tidak berhenti membaca review ini setelah saya mengutip kalimat provokatif di atas, sebab ada misi mulia dibalik keberadaan kalimat tersebut.

Firdaus, si tokoh utama, saya nobatkan sebagai maskot dari ketidakadilan gender terhadap perempuan. Firdaus memperlihatkan kepada kita bagaimana perempuan dijadikan the second sex sejak dari ruang domestik hingga ruang publik.

Firdaus adalah wanita cerdas yang sangat gemar sekolah. Sayangnya, sejak kecil, Firdaus harus dihadapkan dengan orang-orang yang menciptakan lingkungan patriarki di sekitarnya. Ia tidak diberi kesempatan untuk bersekolah tinggi. Seusai tamat sekolah menengah, Firdaus dipaksa menikah dengan seorang kiyai duda kaya tersohor yang usianya jauh di atasnya. Dalam kehidupan rumah tangganya, atas nama agama, Firdaus dijadikan sebagai objek pemuas nafsu suaminya, pekerja domestik, hingga mendapatkan perlakuan KDRT.

Kisah Firdaus ini memperlihatkan kepada kita bagaimana perempuan tidak diberikan hak untuk bersuara dan sangat sulit untuk mendapatkan ruang aman, bahkan di dalam rumahnya sendiri. Dalam ruang-ruang publik, perempuan juga kerap mendapatkan diskriminasi hanya sebab dia perempuan. Ketimpangan upah tenaga kerja hingga pelecehan hampir selalu menyasar perempuan sebagai korban.

Setelah tiga tahun bekerja pada perusahaan itu, bahwa sebagai seorang pelacur saya anggap lebih terhormat, dan dihargai lebih tinggi dibandingkan semua karyawan perempuan, termasuk saya. Pada masa itu saya tinggal di sebuah rumah dengan kamar mandi pribadi. Saya dapat masuk ke situ setiap saat, dan mengunci diri tanpa ada orang yang menyuruh buru-buru. Tubuh saya tidak pernah terjepit di antara tubuh-tubuh orang lain dalam bis, juga tak pernah ditekan oleh tubuh orang lelaki baik dari depan maupun belakang. Harganya tidak murah, dan tidak bisa dibayar hanya dengan kenaikan gaji, oleh undangan untuk makan malam, oleh pelesiran sepanjang Sungai Nil dengan kendaraan seseorang. Juga tidak pernah dianggap sebagai harga yang seharusnya saya bayar untuk memperoleh jasa baik direktur saya, atau untuk menghindari amarah sang presiden direktur -halaman 123

Buku Perempuan di Titik Nol (Women at Point Zero) karya Nawal El-Saadawi ini diterjemahkan dengan sangat apik oleh Mochtar Lubis sehingga tidak menghilangkan marwahnya sebagai novel dengan sastra yang fenomenal. Kesusastraan dan gaya bercerita yang terbilang cukup kompleks saya rasa akan agak membuat pembaca pemula kesusahan untuk membacanya.

Komentar

BARU
-- Tampaknya belum ada komentar --