blur bg
Story cover
childni_
Childani ArDitulis pada 27 Februari 2025

Orang-orang Pulau Timah

Di suatu siang yang terik, di bibir pantai, di hadapan es kelapa muda utuh berjejer tujuh.

"itu adalah kapal penambang timah" kata temanku—untuk tidak menyebutnya tour guide, karena memang bukan.

29 Juli 2024, saat itu kami sedang di Pulau Bangka.

Pantai itu tidak lebih indah dari pantai-pantai di Gunung Kidul. Tidak ada terumbu karang yang menjulang, tidak ada ombak pecah yang berisik, dan airnya tidak biru. Tidak menarik dan mengingatkan aku pada kasus korupsi timah yang merugikan negara sebesar 300 triliun yang sedang ramai saat itu. Ah, tempat ini.

"itu adalah kapal penambang timah" temanku menunjuk kapal-kapal di tengah laut di hadapan kami. Kapal-kapal itu samar, hampir tak kusadari keberadaannya sebelum temanku membuka obrolan ini. Terlihat begitu kecil, mungkin sekecil.... lubang kancing.

"legal, 'kan?" tanyaku. Sebenarnya aku asbun aja.

"tidak," jawab temanku. Mengejutkan.

"hah?" Aku tidak bercanda bahwa ini memang mengejutkan.

"tidak legal," kenapa enteng sekali dia menjawab ini?

"dan kalian oke?" aku memalingkan pandangan dari es degan rasa surgawi yang kuminum di bawah teriknya sengatan matahari, menatap dua temanku—untuk tidak menyebutnya tour guide—, para Akamsi .

"ya gimana lagi."

"memang kalian tidak merasa rugi?"

"justru kami merasa rugi ketika mereka tertangkap kemarin. Ekonomi pulau sempat lumpuh. Lebih dari separuh—mungkin lebih tepat disebut 'hampir seluruh'—wali santri tidak sanggup membayar biaya pesantren,"

"kenapa?"

"karena bos mereka ditangkap,"

"hmm," Aku tertegun. Aih, betapa mereka telah sangat bergantung dengan bisnis tidak sah ini.

"dulu ketika kami masih kecil, kami biasa bermain di sungai sambil ngumpulin timah. Sambil pulang, kami setor timah ke pengepul. Lumayan dapat uang jajan dari setoran beberapa ember timah. Sekarang mana bisa. Harus ke tengah laut untuk bisa dapat timah. Di sungai udah habis."

"artinya, kalian tau bahwa lingkungan kalian rusak karena penambangan ilegal ini, 'kan?"

"jelas kami tahu betul. Entah bagaimana nasib pulau ini di masa depan,"

Aku tidak tau harus respon apa. Mereka tau betul apa yang sedang mereka lakukan, mereka tau betul akibat dari perbuatan mereka, mereka juga tau betul bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"memang tidak ada perusahaan tambang legal di sini?"

"kalau tambang yang dikelola pemerintah, duit yang kami terima lebih sedikit."

Agaknya sulit juga memperbaiki situasi ini. Selain kejahatan yang terlanjur sistematis, negeri ini rakus mengeruk sumber daya, tapi abai pada rakyat yang hidup di atasnya. Sumber daya alam dikeruk, rakyat dibiarkan terpuruk.

Komentar

BARU
-- Tampaknya belum ada komentar --