blur bg
Afii_Khudaefi
Achmad KhudaefiDitulis pada 15 Maret 2025

Perantau yang Menemukan Makna diambang Hidupnya

Malam ini adalah pertama kalinya dalam hidupku menonton pertunjukan. Dan Sanggar Nuun adalah yang tercatat dalam sejarah kehidupanku. Tanwin #7 dengan tema "Perantau Diambang Makna". Pertunjukan musik dramatik ini sejatinya diadakan pada pukul 20.00, namun hujan mengguyur dan memaksa pentas diundur. Dan untungnya, hujan reda kemudian, pentas pun dilaksanakan. Pukul 23.00. Terlampau malam untuk sebuah pertunjukan.

10 menit dari waktu yang ditentukan, aku berjalan menuju tempat pertunjukan. Hujan kembali mengguyur, tak begitu deras memang, namun cukup untuk membuat basah raga yang menerobos malam. Aku ragu dan khawatir bahwa pertunjukan akan dibatalkan. Kupaksakan tetap menuju tempat. Dan ternyata banyak orang yang meramaikan. Perkiraanku keliru, bahwa pertunjukan yang terlampau malam apalagi usai diguyur hujan, kemungkinan sepi orang yang akan datang.

Pertunjukan Tanwin #7 pun dimulai. Kondisi yang masih rintik hujan membuatku memilih untuk menonton di selasar masjid kampus UIN yang bisa menghindarkanku dari cipratan air hujan. Aku menonton sambil berdiri, karena lantai sebagiannya basah, duduk pun nanti pandanganku akan terhalang orang-orang yang berdiri di depanku.

Di awal pementasan, aku belum terlalu fokus untuk menonton karena belum dalam PW (Posisi Wenak). Belum lagi aku harus berlari karena kebelet untuk ke kamar mandi. Jadi aku belum menikmati. Ketika sudah jalan setengah acara, hujan berhenti dan aku memilih untuk menonton di lapangan, langsung di bawah langit malam. Aku duduk di karpet merah bersama penonton lain yang masih khidmat menikmati jalannya pertunjukan.

Hujan dan gerimis silih berganti mengiringi, di akhir pertunjukan aku menemukan sebuah inti. Inti dari tema yang dibawakan pada malam ini. "Menjadi apapun selalu berarti, bagi jiwa-jiwa yang selalu memaknai. Bola takdir akan selalu menggelinding dalam setiap pusaran hidup yang akan terus berputar," kalimat itu yang terus-menerus diulang. Kemudian diselingi lantunan "Hayya 'alal falah..." dan tak terasa pelupuk mataku basah. Jiwaku bergetar hebat. Air mataku luruh menggantikan gerimis yang menghilang.

Terima kasih Sanggar Nuun telah membawakan pertunjukan yang begitu hebat. Semangat berkarya dan kutunggu pertunjukan selanjutnya.

Komentar

BARU
-- Tampaknya belum ada komentar --